Tampilkan postingan dengan label surat terbuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat terbuka. Tampilkan semua postingan
Gonjang-Ganjing Dunia Kelinci (bag. 2)

Gonjang-Ganjing Dunia Kelinci (bag. 2)

Tulisan ini melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya. Sengaja saya pisahkan, supaya bisa lebih terfokus kepada masing2 kelompok dalam masyarakat perkelincian Indonesia.

Kelompok kedua yang juga cukup kesusahan (tidak sedikit yang akhirnya gulung tikar juga) adalah para penghobi yang juga 'pemulia', para penghobi pemula (penghobi musiman), dan orang2 berduit yang mencoba peruntungan dengan beternak kelinci (tanpa mau memahami semua aspek dari binatang tsb). Mereka2 dikelompokkan kedalam kelompok yang sama karena memang bermain dalam lingkaran yang sama.
  • Para penghobi yang juga 'pemulia' mungkin adalah yang paling menderita dengan situasi seperti ini. Mereka adalah orang2 yang berani membayar mahal untuk seekor kelinci karena paham dengan 'kualitasnya' bukan dengan patokan harga pasaran yang berlaku. Biasanya tidak akan pernah menjual anakan kelinci umur dibawah 2 bln dan kualitas kelinci2 yang dijual cukup terjamin (karena sedikit banyak memang memahami tentang teknik pemuliaan kelinci yang benar). Jadi sangat wajar jika harganya diatas harga pasaran umum karena sesuai dengan kualitasnya.
    Namun saat ini banyak kawan2 yang goyah akibat hancurnya harga pasaran umum (kelompok pertama). Saya minta kawan2 untuk tetap semangat, janganlah terpengaruh dengan hancurnya harga kelinci pada pasaran umum, karena memang pasarnya bebeda, janganlah latah untuk ikut2an menurunkan harga standar di kandang anda. Saya merasa sedih ketika tau ada seorang kawan yang menjual seekor kelinci rex seharga 200rb (padahal setahun yang lalu untuk kelinci rex dengan pola dan kualitas spt itu masih berharga =/> 400rb), hanya karena harga kelinci rex pada pasaran umum jatuh ke harga 150rb/ekor. Padahal kualitasnya sangat jauh berbeda. Untuk yang masih kurang mengerti, kelinci rex yang bobotnya tidak sesuai standar, mempunyai bulu yang kusam, tidak rata dan jarang2, dan warna yang tidak tajam dan cerah, serta banyak uban pada pola warnanya adalah kelinci2 rex yang banyak beredar di pasaran umum (kualitas pet). Jadi kawan2 saya minta untuk tetap menjaga semangat mendidik konsumen dengan memberi pemahaman yang benar tentang kualitas. Kualitas kelinci yang baik bukan harus impor. Hargailah jerih payah anda selama bertahun-tahun untuk menghasilkan kelinci2 berkualitas. Tolong jangan terpengaruh dengan hancurnya harga kelinci pada pasaran umum, karena memang kualitas dan pasarnya berbeda. Semoga kita semua bisa tetap semangat untuk kemajuan perkelincian di tanah air.
Salam Persatuan dari saya


Hendra Wibowo

Gonjang-Ganjing Dunia Kelinci 2010 (Bag. 1)

Gonjang-Ganjing Dunia Kelinci 2010 (Bag. 1)

Tahun 2010 mungkin memang tahun yang berat bagi dunia perkelincian, setidaknya itu yang saya rasakan di daerah saya (Batu, Jawa Timur). Tapi mungkin pernyataan saya memang benar, karena beberapa kawan saya yang di Jakarta dan Jawa Tengah juga mengeluhkan hal yang sama. Ada apa dengan dunia perkelincian pada tahun 2010 ini??? Apanya yang salah? Kenapa banyak sekali peternak2 yang terpaksa gulung tikar/beralih ke bidang usaha lain?

Setelah cukup lama berusaha memahami, akhirnya saya mempunyai kesimpulan. Apakah kesimpulan saya ini akan membuat dunia perkelincian akan kembali berseri atau tetap stagnan atau malah semakin terpuruk? Saya rasa jawabannya ada pada kita semua. Jawaban itu ada pada "para pecinta kelinci" yang memang benar2 mencintai binatang lucu ini, yang menginginkan untuk semakin memasyarakatkan kelinci dan memakmurkan masyarakat dgn beternak kelinci.
  1. Yang merasakan pukulan paling berat saya rasa adalah para peternak tradisional/sistem tradisional, yaitu mereka2 yang beternak dengan mengandalkan hasil dari penjualan anakan kelinci (99% mati)/ obrakan/ dgn harga 10ribu/ekor. Golongan ini adalah justru golongan yang seharusnya diangkat/dimakmurkan. Karena yang biasanya beternak dengan cara seperti ini adalah masyarakat pedesaan (yg biasanya mempunyai pendapatan sangat minim). Bahkan tidak sedikit yang memang benar2 mengandalkan kelinci untuk mempertahankan asap dapur mereka tetap 'ngebul'. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat (dimana banyak anakan yang mati/indukan yang menjadi sakit) ditambah seretnya penjualan anakan tentu sangat menyulitkan. Apanya yang salah?? Menurut saya yang salah adalah karena terlalu banyak yang bermain disini. Gencarnya pemberitaan tentang kelinci di berbagai media massa dalam tiga tahun belakangan ini, mengakibatkan peternak2 baru banyak yang bermunculan. Walaupun alasannya beragam, namun sebagian besar alasan yang diutarakan adalah "kelinci mudah dipelihara, beranaknya cepat dan banyak, menjualnya mudah". Inilah yang kemudian mengakibatkan banyak dari peternak2 baru itu yang memilih beternak dengan sistem tradisional tadi (mengandalkan penjualan anakan yg hanya 10ribu/ekor), karena cepat mendatangkan keuntungan. Akibatnya? Coba anda bayangkan sepotong roti dibagi 2, tentu masing2 bagian masih akan terasa banyak dan cukup mengenyangkan jika dimakan. Tapi bagaimana jika roti itu dibagi 4, 8, 16, ...? Apakah cukup mengenyangkan? Tentu tidak sama sekali. Itulah yang terjadi. Pasar kelinci anakan tidak turun atau berkurang. Pasarnya tetap sama, jumlah rotinya tetap sama. Tetapi yang bermain disana yang bertambah sangat banyak. Apa dasar saya mengatakan ini? Untuk itu kita perlu mengetahui siapa "pasar" untuk anakan kelinci ini. Pasar dari anakan2 kelinci ini tentu tidak lain adalah anak2 kecil. Karena kelinci2 anakan itu memang dijual di pinggir2 jalan atau di pusat2 keramaian. Dan karena saya yakin anak2 kecil tidak akan berkurang (setidaknya di negara ini), tentu tidak ada masalah dengan pasar. Bagaimana solusinya? Menurut saya ada beberapa pilihan. Pertama, kondisi ini kita biarkan saja. Biarkan 'hukum rimba' yang berlaku. Maka yang benar2 kuatlah yang bertahan, atau juga peternak2 yang sudah tidak punya pilihan lain. Walaupun terasa sadis, namun saya yakin siklus akan terjadi. Jika banyak peternak dengan sistem tradisional ini yang 'gulung tikar', tentu roti yang dibagi akan terasa semakin banyak dan mengenyangkan. Kedua, menginformasikan kepada para peternak/calon peternak baru bahwa masih ada pilihan pasar lain yang masih belum tergarap dengan benar/ belum tergarap sama sekali. Walaupun membutuhkan modal lebih besar atau pengetahuan beternak kelinci lebih banyak, tapi pasarnya masih sangat luas dan lebih stabil. Pasar2 itu adalah pedaging dan sisa hasilnya (bulu, kulit bulu dan pupuk kandang dari kotoran dan kencing kelinci). Jalan ini memang terasa lebih berat, namun tidak mustahil. Jika di negara2 lain bisa (Perancis, Amerika, bahkan yang belakangan mengenal kelinci dari Indonesia spt Cina dan Vietnam bisa), mengapa kita tidak? Kuncinya memang ada pada instansi2 pemerintah yang terkait. Kita perlu memberikan banyak prestasi dan menggandeng media2 massa untuk mempublikasikannya, kita perlu membuka mata para bapak2 pejabat yang terkait untuk "benar2 melek dan bekerja". Bahwa mereka menerima gaji dari uang rakyat, sehingga sudah menjadi kewajiban mereka untuk memfasilitasi masyarakat meningkatkan kemakmuran. Marilah kita bergandengan tangan lebih erat, marilah kita berlomba-lomba menjadi peternak kelinci yang baik dan bertanggung-jawab. Persatuan yang erat antara kita (para pecinta kelinci sejati)lah yang akan membuat 'pasar lain' dari beternak kelinci cepat terwujud, sehingga di masa yang akan datang kondisi seperti ini tidak terulang kembali.
bersambung...

Penyakit

More »

Pemeliharaan

More »